SKU adalah singkatan dari Stock Keeping Unit, yaitu unit barang atau varian produk yang stoknya dibedakan dalam pencatatan. Dalam penggunaan sehari-hari, istilah SKU juga merujuk pada kode internal untuk mengenali unit tersebut. Dengan kode ini, toko dapat membedakan kaos hijau ukuran M dari kaos hijau ukuran L meskipun nama produknya hampir sama.
SKU membantu tim penjualan, pembelian, dan gudang merujuk barang yang sama. Kode tersebut tidak menunjukkan jumlah stok; jumlah tersedia dicatat terpisah dan berubah mengikuti transaksi.
Apa Fungsi SKU Dalam Pengelolaan Barang?
Nama produk sering belum cukup untuk mengidentifikasi pesanan. “Kaos hijau” dapat merujuk pada beberapa ukuran atau model. Kode SKU memperjelas varian yang dimaksud ketika staf menerima barang, menyiapkan pesanan, atau membaca laporan.
- Membedakan varian: warna, ukuran, atau spesifikasi yang stoknya perlu dihitung terpisah mempunyai identitas sendiri.
- Membantu pencarian: staf dapat mencari kode barang yang disepakati, bukan menebak variasi penulisan namanya.
- Membaca penjualan per barang: laporan dapat membedakan produk yang cepat terjual dari varian yang jarang bergerak.
- Mencocokkan data antarsistem: kode yang konsisten memudahkan pemetaan barang pada toko, gudang, dan aplikasi bisnis.
SKU tetap membutuhkan data produk dan pencatatan transaksi yang benar. Memiliki kode unik saja belum mencegah salah ambil atau menjamin stok fisik sesuai catatan.
Contoh SKU Produk Dan Variannya
Berikut contoh rancangan kode untuk toko pakaian, bukan standar wajib atau data usaha nyata. Toko menggunakan awalan KAS untuk kaos, HJ untuk hijau, serta M dan L untuk ukuran:
- KAS-HJ-M: kaos hijau ukuran M.
- KAS-HJ-L: kaos hijau ukuran L.
- KAS-HT-M: kaos hitam ukuran M.
Jika toko mempunyai 20 kaos hijau ukuran M dengan model yang sama, seluruhnya dapat memakai SKU KAS-HJ-M. Angka 20 merupakan kuantitas barang, bukan berarti ada 20 SKU berbeda. Jika model atau spesifikasinya berbeda dan harus dikelola terpisah, tambahkan pembeda yang sesuai dalam master barang.
Contoh ini sengaja memakai kode pendek yang mudah dibaca. Tidak semua bisnis harus memasukkan warna dan ukuran ke dalam kode. Nomor berurutan juga dapat digunakan, asalkan unik dan deskripsi produknya tersimpan dengan jelas.
Apa Bedanya SKU Dengan Barcode, Batch, Dan Nomor Seri?
SKU mengenali jenis atau varian barang dalam pencatatan internal. Barcode adalah simbol yang dapat dipindai untuk membaca suatu pengenal. Barcode dapat digunakan untuk merepresentasikan SKU internal atau pengenal lain sesuai rancangan sistem; keduanya bukan istilah yang selalu bisa dipertukarkan.
Nomor batch mengenali kelompok produksi. Satu SKU dapat memiliki beberapa batch, misalnya produk yang sama dibuat pada waktu berbeda. Nomor seri mengenali satu barang individual, seperti sebuah perangkat tertentu. Beberapa perangkat dengan model sama dapat memiliki SKU yang sama tetapi nomor seri berbeda.
Untuk memahami penggunaan pemindai dalam operasional, baca cara kerja sistem barcode untuk gudang. SKU juga tidak otomatis menggantikan pengenal standar seperti GTIN yang mungkin diminta mitra atau kanal penjualan.
Bagaimana Cara Membuat Kode SKU?
- Tentukan barang yang perlu dibedakan. Catat model, ukuran, isi kemasan, atau spesifikasi yang memengaruhi stok dan pemenuhan pesanan.
- Sepakati pola kode. Pilih nomor berurutan atau kombinasi singkatan yang dimengerti tim. Dokumentasikan arti singkatan agar tidak berubah antarproduk.
- Periksa keunikan. Pastikan dua varian berbeda tidak mendapat kode yang sama. Periksa juga data lama sebelum menambahkan barang baru.
- Uji pada aplikasi yang digunakan. Periksa batas karakter dan perilaku pencarian, impor, serta integrasi. Jangan menganggap semua aplikasi memperlakukan kode dengan cara yang sama.
- Tetapkan pengelola master barang. Tentukan siapa yang boleh membuat atau mengubah kode dan bagaimana perubahan disampaikan kepada tim terkait.
Hindari memasukkan informasi yang sering berubah, seperti harga jual, ke dalam kode. Lokasi rak sebaiknya dicatat sebagai atribut tersendiri agar perpindahan barang tidak memaksa perubahan identitas produk. Ini merupakan pertimbangan rancangan, bukan aturan universal untuk semua sistem.
Kesalahan Yang Perlu Dihindari
Kesalahan yang sering mengganggu pemakaian SKU adalah satu kode untuk beberapa varian, satu barang dibuat berulang dengan kode berbeda, dan pemetaan kode antaraplikasi yang tidak disepakati. Mengganti kode lama tanpa menelusuri pesanan terbuka juga dapat menyulitkan pencocokan transaksi.
Mulailah dari daftar barang yang rapi, lalu uji penerimaan, penjualan, retur, dan laporan dengan beberapa contoh varian. Jika stok juga memerlukan pengaturan lokasi dan alur gudang, pelajari perbedaan WMS dan inventory biasa. Untuk pertanyaan awal mengenai layanan sistem gudang Layana, hubungi Stella melalui WhatsApp di 0818-0425-1557.
Referensi: Shopify: Penggunaan SKU, DHL: Pengertian SKU, dan Shopify: Barcode Produk.
Gambar utama merupakan ilustrasi AI tentang kode varian produk, bukan foto produk atau dokumentasi proyek Layana.